Pages

Minggu, 17 Juli 2011

KOMPOSISI PENDUDUK

KOMPOSISI PENDUDUK
A.    Pengertian Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk adalah pengelompokkan penduduk berdasarkan kriteria (ukuran) tertentu. Dasar untuk menyusun komposisi penduduk yang umum digunakan adalah umur, jenis kelamin, mata pencaharian, dan tempat tinggal.komposisi penduduk menggambarkan susunan penduduk yang dibuat berdasarkan pengelompokan penduduk menurut karakteristik-karakteristik yang sama (Said Rusli, 1983). Pengelompokkan penduduk dapat digunakan untuk dasar dalam pengambilan kebijakan dan pembuatan program dalam mengatasi masalah-masalah di bidang kependudukan.
Dalam hal ini diperlukan membuat tabel frekuensi. Dari tabel frekuensi tunggal tersebut menghasilkan informasi mengenai karakteristik penduduk satu wilayah berdasarkan variabel-variabel tertentu.
1.      Komposisi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin
Komposisi penduduk yang sering digunakan untuk analisis dan perencanaan pembangunan adalah komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin. Biasanya jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin dijadikan satu dalam suatu table. Umur biasanya dikelompokan dengan jenjang lima tahunan, misalnya kelompok umur 0-4,5-9,10-14,…,60-64,65+. Penduduk yang termasuk kelompok umur 5-9 tahun misalnya adalah semua penduduk yang telah merayakan ulang tahunnya yang kelima, tetapi belum merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh.
Ada pula yang menggunakan Umur penduduk dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
- Umur 0 – 14 tahun dinamakan usia muda/usia belum produktif.
- Umur 15 – 64 tahun dinamakan usia dewasa/usia kerja/usia produktif.
- Umur 65 tahun keatas dinamakan usia tua/usia tak produktif/usia jompo.
Sesuai dengan pengelompokkan umur di atas, maka struktur (susunan) penduduk negara-negara di dunia dibagi 3 yaitu:
- Struktur penduduk muda : bila suatu negara atau wilayah sebagian besar penduduk usia muda.
- Struktur penduduk dewasa : bila suatu negara sebagian besar penduduk berusia dewasa.
- Struktur penduduk tua : bila suatu negara sebagian besar terdiri penduduk berusia tua.
2. Komposisi penduduk menurut pekerjaan
Penduduk dapat dikelompokkan berdasarkan pekerjaan yang dilakukan oleh tiap-tiap orang. Pekerjaan-pekerjaan tersebut antara lain pegawai negeri sipil, TNI, POLRI, buruh, pedagang, petani, pengusaha dan sopir.

2.      Komposisi penduduk menurut pendidikan
Berdasarkan tingkat atau jenjang pendidikan yang telah ditamatkan penduduk dapat dikelompokkan dalam tingkat SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi. Pengelompokkan ini dapat digunakan untuk menentukan besarnya tingkat pendidikan penduduk.

3.      Komposisi Penduduk menurut Agama
Pengelompokkan ini berdasarkan kepada agama yang dianut penduduk yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha.

4.      Komposisi penduduk menurut tempat tinggal
Tempat tinggal yang sering digunakan dalam komposisi ini adalah tempat tinggal penduduk di desa dan di kota. Ciri khas negara agraris seperti Indonesia adalah sebagian besar penduduk tinggal di desa.

B.     Cara penyajian dan perhitungan komposisi penduduk
Penyajian data komposisi penduduk dapat disajikan dengan grafik yang berbentuk pyramid yang disebut dengan Piramida Penduduk. Piramida Penduduk menurut umur dan jenis kelamin merupakan grafik batang yang menggambarkan perbandingan banyaknya jumlah laki-laki dan perempuan dalam tiap-tiap kelompok usia. Dengan piramida penduduk, data akan terbaca dengan lebih jelas. Riwayat penduduk suatu daerah ataupun negara dapat dibaca dari piramida penduduk tersebut.
Penggambaran suatu piramida penduduk dimulai dengan menggambarkan dua garis yang saling tegak lurus. Garis yang vertical menggambarkan umur penduduk mulai 0 tahun lalu naik. Kenaikan ini dapat digambarkan dalam tahunan atau lima tahunan. Pada kiri sumbu vertical menggambarkan jumlah penduduk perempuan. Sumbu horizontal menggambarkan jumlah penduduk tertentu, baik secara absolute maupun relative (dalam persen).
3 aspek yang terkandung dalam gambar grafik adalah:
1.      Aspek demografi, yaitu menggambarkan trend fertilitas dengan memperhatikanpenduduk usia 0±4 tahun.
2.      Aspek Sosial, yaitu dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan denganmemperhatikan angka harapan hidup pada penduduk usia 65+.
3.       Aspek ekonomi, dengan memperhatikan dependency ratio (bebanketergantungan penduduk belum dan tidak berusia produktif (0±14 tahun dan65+) terhadap penduduk usia produktif (15-64 tahun).

Macam-Macam Bentuk Piramida Penduduk 
Model 1:
Piramida penduduk model ini mempunyai dasar lebar dan ‘slope’ tidak terlalu curam atau datar. Bentuk semacam ini terdapat pada penduduk dengan tingkat kelahiran dan kematian sangat tinggi, sebelum mereka mengadakan pengendalian terhadap kelahiran maupun kematian. Umur median rendah, sedangkan angka beban tanggungan (dependency ratio) tinggi.
Model 2 :
Dibandingkan dengan model 1, maka dasar piramida model 2 ini lebih lebar dan ‘slope’ lebih curam sesudah kelompok umur 0-4 tahun sampai ke puncak piramida. Bentuk ini terdapat padanegara dengan permulaan pertumbuhan penduduk yang tinggi/cepat akibat adanya penurunantingkat kematian bayi dan anak-anak tetapi belum ada penurunan tingakt fertilitas. Umur mediansangat rendah, sedangkan angka beban tanggungan (dependency ratio) tinggi.
Model 3 :
Bentuk piramida ini dikenal sebagai bentuk sarang tawon kuno (old fashioned beehive). Terdapat pada negara dengan tingkat kelahirandan tingkat kematian yang rendah. Karakteristikyang dimiliki piramida ini yaitu umur median sangat tinggi, dengan beban tanggungan sangatrendah, terutama pada kelompok umur-umur tua.
Contoh: Pramida penduduk pada hamper seluruh negara-negara Eropa barat.
Model 4 :
Piramida penduduk dengan bentuk lonceng/genta (The bellshapedpyramid). Bentuk ini dicapaioleh Negara-negara yang paling sedikit sudah 100 tahun mengalami penurunan tingkat fertilitas(kelahiran) dan kematian. Umur median cenderung menurun dan angka beban tanggunganmeninggi.
Contoh: Piramida penduduk Amerika Serikat.
Model 5 :
         Terdapat pada negara yang menjalani penurunan drastis yang tingkat kelahiran dankematiannya sangat rendah. Penurunan tingkat kelahiran yang terus menerus akanmenyebabkan berkurangnya jumlah absolute dari pada penduduk.
Contoh: Jepang


       Selain 5 bentuk piramida di atas ada pula yang membedakan piramida menjadi 3 bentuk:
1. Piramida penduduk muda berbentuk lima.
       Piramida ini menggambarkan jumlah penduduk usia muda lebih besar dibanding usia dewasa. Di waktu yang akan datang jumlah penduduk bertambah lebih banyak. Jadi penduduk sedang mengalami pertumbuhan.
2. Piramida penduduk stasioner atau tetap berbentuk granat
       Bentuk ini menggambarkan jumlah penduduk usia muda seimbang dengan usia dewasa. Hal ini berarti penduduk dalam keadaan stasioner sehingga pertambahan penduduk akan tetap diwaktu yang akan datang.
3.      Piramida penduduk tua berbentuk batu nisan
       Piramida bentuk ini menunjukkan jumlah penduduk usia muda lebih sedikit bila dibandingkan dengan usia dewasa. Diwaktu yang akan datang jumlah penduduk mengalami penurunan karena tingkat kelahiran yang rendah dan kematian yang tinggi.
       Negara-negara berkembang seperti Indonesia memiliki piramida penduduk berbentuk limas dan negara-negara maju umumnya berbentuk granat dan sebagian kecil berbentuk batu nisan.

Penghitungan Komposisi Penduduk
Dalam membahas komposisi penduduk, khususnya yang berhubungan dengan komposisi menurut umur dan jenis kelamin ada beberapa konsep, definisi dan ukuran – ukuran yang perlu diketahui adalah:
a. Umur Tunggal (Single Age)
Umur tunggal adalah umur seseorang yang dihitung berdasarkan hari ulang tahun terakhirnya. Misalanya jika seseorang berumur 11,5 tahun maka dalam pengertian di atas dianggap berumur 11 tahun. Dalam kenyataan, baik dalam survey maupun sensus menanyakan umur seseorang tidaklah mudah. Masih banyak penduduk Indonesia yang tidak tahu sama sekali mengenai tanggal kelahiran maupun tahunnya. Ada kecenderungan orang menyenangi umur – umur dengan angka akhir 0 atau 5. Misalnya umur sebenarnya 29 tahun, tetapi mengaku 30 tahun. Keadaan seperti itu disebut “age heaping” atau “age preference”.
Kesalahan pelaporan umur bisa terjadi baik di lapangan (sewaktu survey ataupun sensus) maupun pada saat memproses data umur.
b. Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio)
Merupakan perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan. Dinyatakan dengan banyak penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan. K merupakan konstanta = 100. Besar kecilnya Rasio Jenis Kelamin di suatu daerah dipengaruhi oleh :
a.       Sex Ratio at Birth
Di beberapa negara umumnya berkisar antara 103 – 105 bagi laki – laki per 100 bayi perempuan. Pola mortalitas antara penduduk laki – laki dan perempuan. Jika kematian laki – laki lebih besar daripada jumlah kematian perempuan maka rasio jenis kelamin semakin kecil. Pola migrasi antara penduduk laki – laki dan penduduk perempuan. Jika di suatu daerah Sex Ratio > 100 berarti daerah tersebut lebih banyak penduduk laki – laki. Sedangkan jika Sex Ratio < 100 berarti lebih banyak perempuan. Angka Beban Tanggungan ( Dependency Ratio) Merupakan angka yang menunjukkan beban tanggungan dari kelompok usia produktif (15-64 tahun) taerhadap usia belum produktif (0-14 tahun) dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas).
Keterangan :
P0-14     = Jumlah penduduk usia 0-14 tahun (belum produktif))
P15-64   = Jumlah penduduk usia 15-64 tahun (produktif)
P65+      = Jumlah penduduk usia 65 keatas (tidak produktif)
K           = Konstanta (100)
Secara kasar angka ini dapat digunakan sebagai indikator ekonomi dari suatu negara apakah tergolong maju atau bukan. Angka beban tanggungan penduduk Indonesia tahun 1971 adalah 87, ini berarti bahwa tiap 100 orang yang produktif harus menanggung 87 orang yang tidak produktif.
b.      Umur Median (Median Age)
Umur median adalah unsur yang membagi penduduk menjadi dua bagian dengan jumlah yang sama, bagian yang pertama lebih muda dan bagain yang kedua lebih tua daripada “median age”. Umur median ini ditentukan berdasarkan umur dari sebagain penduduk yang lebih tua dan umur sebagian penduduk yang lebih muda. Manfaat umur median adalah untuk mengukur tingkat pemusatan penduduk pada kelompok – kelompok umur tertentu.
Rumus Md=1Md+ ((N/2- fx)/fMd) i

Keterangan:
1Md    : batas bawah kelompok umur yang mengandung jumlah N/2
N         : jumlah penduduk
x          : jumlah penduduk kumulatif sampai dengan kelompok umur yang mengandung N/2
FMd    : jumlah penduduk pada kelompok umur dimana terdapat nilai N/2
i      : “class interval” umur

C.    Contoh data tentang komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin pada satu wilayah
Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, 2005
Kota Rembang Provinsi Jawa Tengah tahun 2005
Number of Population by Sex and Age Group

Sumber Source : SPAN (Sensus penduduk Aceh dan Nias), SUPAS (Sensus Penduduk Antar Sensus) 2005
Kelompok umur
Laki-laki
Male

Perempuan
Female

Total
Total
0-4
21,311
20,035
41,346
9-May
25,478
22,671
48,149
14-Oct
29,256
23,909
53,165
15-19
29,007
21,286
50,293
20-24
21,272
24,847
46,119
25-29
22,156
23,412
45,568
30-34
23,100
23,992
47,092
35-39
21,279
22,642
43,921
40-44
20,315
24,005
44,320
45-49
19,744
19,319
39,063
50-54
13,987
12,723
26,710
55-59
13,321
10,186
23,507
60-64
8,462
8,415
16,877
65-69
5,683
9,737
15,420
70-74
4,639
7,305
11,944
75+
4,371
5,257
9,628
Total
283,381
279,741
563,122


D.          Fungsi komposisi penduduk secara umum dan di bidang kesehatan masyarakat
       Secara Umum dalam rangka perencanaan pembangunan di segala bidang, diperlukan informasi mengenai keadaan penduduk seperti jumlah penduduk, persebaran penduduk, dan susunan penduduk menurut umur. Informasi yang harus tersedia tidak hanya menyangkut keadaan pada saat perencanaan disusun, tetapi juga informasi masa lalu dan masa kini sudah tersedia dari hasil sensus dan survei-survey, Sedangkan untuk masa yang akan datang, informasi tersebut perlu dibuat suatu proyeksi yaitu perkiraan jumlah penduduk dan komposisinya di masa mendatang. Informasi tentang jumlah penduduk untuk kelompok usia tertentu penting diketahui agar pembangunan dapat diarahkan sesuai kebutuhan penduduk sebagai pelaku pembangunan. Keterangan atau informasi tentang penduduk menurut umur yang terbagi dalam kelompok umur lima tahunan, sangat penting dan dibutuhkan berkaitan dengan pengembangan kebijakan kependudukan terutama berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Jumlah penduduk yang besar dapat dipandang sebagai beban sekaligus juga modal dalam pembangunan.

         Di bidang Kesehatan Masyarakat dalam bidang kesehatan masyarakat, Penghitungan komposisi penduduk berfungsi untuk mengetahui jumlah kelahiran serta kematian yang dialami di sebuah wilayah. Secara otomatis pemerintah lebih mudah dalam memantau pertumbuhan penduduk. Pengendalian pertumbuhan penduduk terutama dilakukan melalui upaya penurunan tingkat kelahiran serta penurunan tingkat kematian khususnya kematian bayi dan anak . Penurunan tingkat kelahiran terutama dilakukan melalui gerakan keluarga berencana (KB). Selain itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan keluarga bahagia sejahtera. Tercapainya kegiatan ini akan meningkatkan juga status kesehatan masyarakat pada umumnya.
Salah satu upaya penurunan tingkat kematian pada ibu bersalin dan kematian bayi baru lahir dilakukan upaya Safe motherhood. Upaya safe motherhood merupakan upaya untuk menyelamatkan wanita agar kehamilan dan persalinannya dapat dilalui dengan sehat dan aman serta melahirkan bayi yang sehat.




BAB III. Ukuran-ukuran demografi

Data –data kependudukan dan kesehatan yang menggunakan ukuran –ukuran demografi

Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin menurut Provinsi dan Kabupaten/Kota, 2005
Number of Population and Sex Ratio by Province and District, 2005
Sumber Source: SUPAS 2005

Provinsi
Jumlah penduduk / Number of Population
Rasio Jenis Kelamin
Province
Laki-laki
Perempuan
Total
Sex Ratio

Male
Female
Total

1. Nanggroe Aceh Darussalam
2,005,763
2,025,826
4,031,589
99
2. Sumatera Utara
5,833,465
5,855,522
11,688,987
100
3. Sumatera Barat
2,248,970
2,306,840
4,555,810
97
4. Riau
2,329,094
2,234,312
4,563,406
104
5. Jambi
1,351,370
1,275,846
2,627,216
106
6. Sumatera Selatan
3,424,444
3,343,201
6,767,645
102
7. Bengkulu
788,630
757,656
1,546,286
104
8. Lampung
3,682,753
3,421,819
7,104,572
108
9. Kep. Bangka Belitung
543,878
498,950
1,042,828
109
10. Kepulauan Riau
636,078
636,933
1,273,011
100
11. DKI Jakarta
4,390,746
4,448,501
8,839,247
99
12. Jawa Barat
19,703,106
19,183,869
38,886,975
103
13. Jawa Tengah
15,929,449
15,966,665
31,896,114
100
14. DI Yogyakarta
1,669,939
1,667,156
3,337,095
100
15. Jawa Timur
17,906,468
18,151,639
36,058,107
99
16. Banten
4,587,897
4,420,254
9,008,151
104
17. Bali
1,715,130
1,662,962
3,378,092
103
18. Nusa Tenggara Barat
2,014,744
2,154,951
4,169,695
93
19. Nusa Tenggara Timur
2,125,959
2,117,223
4,243,182
100
20. Kalimantan Barat
2,070,557
1,972,260
4,042,817
105
21. Kalimantan Tengah
986,430
926,596
1,913,026
106
22. Kalimantan Selatan
1,650,537
1,620,876
3,271,413
102
23. Kalimantan Timur
1,486,179
1,354,695
2,840,874
110
24. Sulawesi Utara
1,080,528
1,040,489
2,121,017
104
25. Sulawesi Tengah
1,174,656
1,116,313
2,290,969
105
26. Sulawesi Selatan
4,115,294
4,341,829
8,457,123
95
27. Sulawesi Tenggara
988,121
972,576
1,960,697
102
28. Gorontalo
463,073
456,942
920,015
101
29. Maluku
634,107
615,105
1,249,212
103
30. Maluku Utara
452,127
429,740
881,867
105
31. Papua
1,290,799
1,149,039
2,439,838
112

Rasio Jenis Kelamin
RJK =       Jumlah penduduk laki-laki             X 100
                   Jumlah penduduk perempuan

RJK =       2,005,763        X 100
                   2,025,826
         =       99

Arti  : setiap 100 penduduk wanita terdapat 99 penduduk laki-laki. Apabila angka tersebut berada jauh dari 100 ini berarti diwilayah tersebut kekurangan penduduk laki-laki. Hal ini bisa diakibatkan antara lain banyaknya migrasi yang dilakukan oleh penduduk laki-laki, kematian yang banyaknya terjadi pada laki-laki.


Angka Kelahiran menurut Umur Wanita, Daerah, Periode dan Provinsi
Age Specific Fertility Rates by Area, Period and Province
Sumber/Source : BPS, Estimasi Parameter Demografi

statistik : menurut referensi waktu
provinsi : Jawa Tengah
cakupan : waktu
Referensi waktu
Umur Wanita / Age of Female (Kelahiran per 1000 Wanita)
TFR
Time reference
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
1968 (1966 - 1970)
82
235
244
183
103
37
7
4.46
1972 (1970 - 1975)
76
224
244
178
102
37
7
4.34
1977 (1975 - 1979)
82
222
217
153
81
27
6
3.94
1982 (1980 - 1984)
72
205
189
124
78
23
5
3.48
1987 (1985 - 1989)
42
146
152
106
57
20
4
2.64
1992 (1990 - 1994)
31
122
131
92
52
24
5
2.29
1997 (1995 - 1999)
25
91
113
88
48
20
7
1.95
Rumus : TFR = C x ASFR
         Catatan : ASFR konstan dari tahun ke tahun, jumlah wanita tidak berubah.

Arti  : Di Jawa Tengah setelah tahun 1970-an, terjadi penurunan tingkat fertilitas total dari 4.46 pada periode 1966-1970, menjadi 1.95 pada periode tahun 1995-1999. Angka TFR menggambarkan bahwa rata-rata jumlah anak yang dilahirkan tinggi pula. Ini berarti tiap 1.000 perempuan setelah melewati masa suburnya akan melahirkan 1.95 bayi laki-laki dan perempuan atau setiap perempuan Jawa Tengah pada periode 1995-1999 melahirkan 1.95 bayi laki-laki dan perempuan.  Penurunan Tingkat Fertilitas Total di Jawa Tengah dipengaruhi oleh keberhasilan program Keluarga Berencana di Jawa Tengah.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

(c)2009 Queen blog... Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger